Bagaimana Omnibus Law Dalam Kacamata Islam

Salah satu hal yang tengah ramai di bicarakan oleh masyarakat di Indonesia adalah terkait munculnya Omnibus law. Omnibus law adalah atura yang telah disiapkan guna memperkuat perekonomian nasional melalui perbaikan ekosistem investasi dan daya saing Indonesia, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.

Bagaimana Omnibus Law Dalam Kacamata Islam

Yang membuat hal ini menarik, salah satunya adalah terkait rencana penghapusan kewajiban sertifikasi halal. Aturan ini tercantum dalam Pasal 552 RUU Cipta Lapangan Kerja yang akan menghapus pasal 4, 29, 42, dan 44 UU Jaminan Halal. Tentu saja yang paling gencar menggalar aksi demo  untuk menolak omnibus law ini adalah para buruh.

Terlepas dari aturan sertifikasi, dilihat dari segi agama islam, mengkonsumsi  sesuatu yang halal hukumnya wajib bagi seorang muslim. Halal juga tidak hanya mengenai status apa yang di konsumsi saja, namun juga meliputi cara dan proses sebelum mengkonsumsi suatu materi, serta berbagai aspek dalam kehidupan seseorang yang beragama Islam.


Dikutip dari situs Islamic Council of Victoria, halal dalam bahasa Arab dijelaskan sebagai sesuatu yang baik, dibolehkan, dan sesuai hukum. Bagi muslim, hukum merujuk pada Al-Qur’an seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Akibat Konsumsi Makanan Tidak Halal

Menurut Abu Huraira, salah satu akibat yang harus di tanggung oleh seorang muslim yang nekad mengkonsumsi makanan yang tidak halal adalah tidak di dengarkannya doa yang ia panjatkan. Namun selain itu masih ada juga resiko lain yaitu :

1. Sulit menerima ilmu Allah SWT

Risiko sulit menerima ilmu Allah SWT, karena sesuatu yang haram diceritakan Imam Syafi’i. Saat itu, Imam Syafi’i mengeluh pada gurunya Imam Waki karena sulit menghapal. Imam Waki menjawab keluhan tersebut dalam suatu sajak, yang mengumpamakan ilmu sebagai cahaya.

Artinya, ilmu hanya bisa diterima mereka yang pantas yaitu yang menegakkan halal dan meninggalkan maksiat. Halal tidak hanya diterapkan pada makanan, tapi juga perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Doa terhalang

Risiko doa yang terhalang karena berinteraksi dengan sesuatu yang haram telah diingatkan Rasulullah SAW. Nabi SAW menyampaikannya pada salah satu sahabat Sa’d RA.


Artinya: “Wahai Sa’d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari.” (HR Sulaiman ibn Ahmad).

3. Mendatangkan sesuatu yang buruk

Mengkonsumsi, menggunakan, atau melakukan sesuatu yang haram cenderung menghasilkan energi yang tidak baik. Dikutip dari kitab Ihya ‘Ulum al-Din jilid 2, Al-Ghazali mengatakan, energi tersebut cenderung digunakan untuk hal yang berbau maksiat.

Rasulullah SAW disebutkan selalu mengingatkan untuk mengkonsumsi dan melakukan hal yang baik atau halal. Sesuatu yang baik hanya datang dari hal balik, sebaliknya hal buruk berasal dari sesuatu yang juga buruk.

4. Neraka

Menjadi penghuni neraka adalah risiko lain bagi mereka yang nekat mengkonsumsi atau melakukan hal yang haram. Rasulullah SAW telah mengingatkan risiko ini dalam hadistnya.

Artinya: “Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya.” (HR Al-Thabrani).