Begini Cara Membayar Fidyah Utang Puasa Ramadan Menurut Islam

Semua umat islam di dunia sudah pasti paham dengan pentingnya puasa di bulan Ramadhan. Puasa sendiri merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Rukun islam lainnnya adalah sholat, baiknya sholat dilakukan berjamaah di atas karpet masjid.

Sedangkan puasa di bulan ramadhan adalah kewajiban untuk menjalankan ibadah puasa. Salah satunya puasa di bulan Ramadan.

Sebagaimana yang telah diperintahkan langsung dalam Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Namun perlu diperhatikan, didalam ayat selanjutnya, Allah SWT memberikan keringanan bagi mereka yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Sebagaimana yang diketahui, ada berbagai sebab kenapa seorang muslim tidak puasa. Antara lain penyebabnya  adalah sakit, sedang hamil dan menyusui, atau kondisi sudah lanjut usia yang  tidak memungkinkan untuk berpuasa.

bahkan beribadah di masjid saja dan sujud diatas karpet masjid sudah tidak sanggup.

Bagi orang dalam kondisi diatas tidak diwajibkan untuk menjalankan puasa dan karena tidak bisa menggantinya di lain waktu, wajib hukumnya untuk membayar fidyah.

Apa itu fidyah? Bagaimana cara membayar fidyah yang benar menurut Islam? Simak pembahasannya dibawah ini




Hal Yang Harus Diketahui Tentang Fidyah

Seperti yang diketahui, fidyah adalah bentuk keringanan oleh Allah Swt kepada hambanya yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa dikarenakan hal-hal tertentu. Antara lain :

  • Orang yang telah sakit parah dan diperkirakan tidak dapat sembuh.
  • Para orang tua yang sudah renta.
  • Orang hamil dan menyusui.

Cara pembayaran fidyah pun juga sudah diatur lebih lanjut di dalam ajaran islam. Sebagaimana inti dari pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadan. Hal ini pernah dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja dan tidak sanggup berpuasa.


2. Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari. Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”


Lalu besaran fidyah yang tepat sesuai aturan agama islam berapa? Pertanyaan tersebut tentu seringkali timbul dibenak seorang muslim.

Menurut Ulama Malikiyah dan Syafiiyah, kadar fidyah adalah 1 mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Berbeda dengan ulama Hanafiyah yang berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho kurma, atau 1 sho syair (gandum) atau sho hinthoh (biji gandum).

Fidyah ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan kemudian makanan tersebut diberikan untuk orang miskin.

Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Sholih Al Fauzan dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia) mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho dari makanan pokok di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya). Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.

Ukuran 1 sho sama dengan 4 mud. Satu sho kira-kira 3 kg. Maka setengah sho kira-kira 1 kg. Itulah besarnya fidyah yang harus dikeluarkan.


Adapun waktu pembayaran fidyah eseorang dapat membayar fidyah pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir Bulan Ramadan.

Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadan atau ketika memasuki Bulan Sya’ban.