Pandemi Corona : Harga Masker dan Sanitizer Melonjak Tinggi, Begini Pandangan Islam

Semenjak pertama kali virus corona diumumkan telah menjangkiti salah seorang warga negara Indonesia pada 2 Maret lalu, harga barang kesehatan seperti masker, handsanitizer pun langsung melonjak tinggi. Selain mahal, melebihi harga karpet masjid, barang-barang tersebut juga susah di cari.

Padahal banyak sekali masyarakat yang membutuhkan alat kesehatan tersebut untuk melindungi diri saat beraktivitas. Kenaikan harga dan kelangkaan tersebut tidak hanya dipengaruhi permintaan yang membeludak, namun juga ulah nakal dari beberapa reseller yang menimbun barang-barang yang dibutuhkan ditengah pandemi virus corona ini.

Hal itu tentu saja bukanlah perbuatan yang terpuji. Sebab, tahukah Anda bahwa melakukan praktik tafadhul terhadap harga masker dan handsanitizer, hukumnya bisa saja setara dengan hukum keharaman riba.

jika pernah ikut acara kajian di dalam masjid, beralaskan karpet masjid yang tebal, pasti tahu mengenai hukum riba.

Praktik menjual barang-barang yang sangat pokok tingkat kebutuhannya (bahkan darurat) dengan harga mencekik secara Ushul Fiqh dapat digolongkan ke dalam rumpun hukum riba. Melihat kondisi saat ini, masker dan APD (Alat Perlindungan Diri) sudah menjadi barang pokok terutama bagi para pasien dan petugas medis di rumah sakit.

Adapun analisis Ushul Fiqhnya adalah sebagai berikut

Pandemi Corona : Harga Masker dan Sanitizer Melonjak Tinggi, Begini Pandangan Islam

Hukum Menaikkan Barang Pokok Secara Tidak Wajar

 Bicara soal riba, apa sebenarnya  riba itu? Secara mendasar dan umum, riba ialah jual beli dengan adanya kelebihan (tafadhul) dan penundaan (nasi’ah)  di dalamnya.
Adapun larangan mengenai riba dalam agama islam sangatlah jelas, yaitu Q.S. al-Baqarah [2]: 275 yang bunyinya, Wa ahallallahul bai’a wa harramar riba, (Allah Swt telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba),

Selain larangan dalam Al-Qur’an, ada pula hadist shahih mengenai riba

Dari Ubadah ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw melarang jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam; kecuali ukuran yang sama dengan yang sama, barang yang sama dengan barang yang sama. Siapa yang menambah atau meminta tambah, sungguh ia telah berbuat riba.” (HR. Muslim).

Kemudian dijelaskan dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd,

“Makna yang dapat dinalar dari pengharaman riba ialah jangan sampai manusia saling menipu antar–sesama mereka dan menjaga harta mereka satu sama lainnya. Dan itu wajib dilakukan pada urusan mendasar kehidupan.”

Berlandaskan atas ungkapan esensial Ibnu Rusyd di yakni bertujuan untuk menjamin terpeliharanya al-kulliyat al-khams bagi semua orang, dilansir dari Islam.com kita bisa menarik pemahaman-pemahaman prinsipil bahwa kriterianya adalah :

  1. Barang-barang pokok.
  2. Barang yang menentukan nilai tukar sekaligus jadi patokan publik.
  3. Barang yang bisa disimpan.

Meski kini masker dan sanitizer bisa dikatergorian dalam ketiga kriteria tersebut, Tentu, sifat dan syaratnya kelak bisa bergeser lagi sehingga status hukumnya pun bergeser, sesuai dengan ‘illat yang ada.

Sehingga dapat disimpulkan siapa pun yang melakukan praktik tafadhul kepada harga masker dan sinitizer, hukumnya setara dengan hukum keharaman riba. Wujud nyata dari tafadhul ialah menguasainya, menimbunnya, dan menjualnya dengan harga mencekik yang pasti menimbulkan madharat menyusahkan, memberatkan, dan bahkan mengancam kelangsung hidup lainnya.